Total Tayangan Halaman

Senin, 18 Juni 2012

Praktikum psikologi faal 1

1.Percobaan : Indera Peraba Nama Percobaan: : 1.Perasaan pada kulit : 1.1 percobaan 3 baskom plastik : 1.2 Perbandingan dingin : 2 Lokalisasi Taktil : 3. Daya membedakan sifat benda : 3.1 Kekasaran permukaan : 3.2 Berbagai bentuk benda : 4 Gerak Refleks Nama Subjek Percobaan: Shiervira Ratu Ismana Tempat Percobaan: Laboratorium Psikologi Faal Tujuan Percobaan: 1. Perasaan pada kulit Untuk mengetahui adanya reseptor tekanan, sakit, sentuhan, dingin dan panas pada kulit, serta mengetahui letak masing-masing reseptor 2. Lokalisasi Taktil Memahami serta mengetahui kepekaan saraf peraba dengan melokalisir tempat yang ditusukan keberbagai tempat: serta mengetahui kepekaan TPL (Two Point Localization). 3. Daya membedakan sifat benda Untuk membuktikan kepekaan saraf terhadap kehalusan benda sampai kekasaran benda, serta mengetahui berbagai macam bentuk-bentuk benda (Streognostik). 4. Gerak Refleks Untuk mengetahui adanya gerakan-gerakan refleks pada otot Dasar Teori: Indra peraba merupakan indera yang sederhana, umumnya tersebar pada kulit mamalia dan sedikit sekali pada vertebrata rendah. Kepekaan peraba pada manusia sangat besar, terutama di ujung jari dan bibir. Pada bibir, ujung jari, ujung lidah dan alat kelamin terdapat banyak sekali reseptor dengan serabut saraf sensorik. Dengan demikian, ujung jari dapat membedakan dua titik rangsangan bahkan bila jarak kedua titik 1 mm. Hal tersebut disebabkan karena masing-masing titk rangsangan akan mengenai reseptor pada neuron yang berbeda sehingga otak dapat membedakan dua titik rangsang tersebut. Sensasi-sensasi dari badan kita disebut somatosensations (somato sensasi). Sistem yang memediasi sensasi badaniah –sistem somatosensori- pada kenyataannya adalah tiga sistem yang terpisah tetapi saling berinteraksi, yakni: 1. Sebuah sistem ekstroresesif, yang mengindera stimuli eksternal yang diterapkan pada kulit. 2. Sebuah sistem proprioseptif, yang memonitor informasi tentang tubuh yang datang dari reseptor-reseptor diotot, sendi, dan organ-organ keseimbangan. 3. Sebuah sistem interoseptif, yang memberikan informasi umum tentang kondisi-kondisi dalam tubuh (misalnya, temperatur dan tekanan darah) Indra perabaan bukanlah indera tunggal tetapi biasanya terdiri dari empat hal, yaitu peraba (pressure), rasa sakit (pain), panas dan dingin. Disamping itu, indera peraba tidak terbatas pada permukaan kulit dengan resptornya, tetapi juga menyangkut alat-alat yang peka terhadap orientasi dan keseimbangan. Kulit berfungsi memberikan informasi tentang kualitas lingkungan. Oleh karena itu, kulit mempunyai bagian reseptor yang terdapat pada titik-titik permukaan kulit, yaitu titik-titik tekanan, nyeri, panas dan dingin. Titik-titik nyeri adalah yang terbesar jumlahnya, lalu titik-titik tekanan, dingin, dan panas. Pada seluruh tubuh pada bagian-bagian yang peka (ada banyak reseptor). Kepekaan terhadap orientasi dan keseimbangan terdapat pada indera kinestesis yang berarti “kepekaan terhadap gerak”. Ada dua sistem kinesitesis, yaitu: sistem vesbuler dan sistem rabaan. Sistem vesbuler peka terhadap gravitasi, akselerasi, dan deselerasi, serta gerakan berputar. Sistem rabaan peka terhadap kualitas permukaan sekitar kita, letak anggota badan dan tegangan otot. Organon Tactus adalah alat yang berkaitan dengan indera peraba. Organon tactus meliputi kulit dan alat-alat tambahan. Kulit adalah pelindung terhadap luar, sebagai penghalang dari kerusakan dan kuman. Kulit juga membantu membuang zat-zat yang tidak berguna dan mengatur suhu badan. Kulit terdiri dari 2 lapisan, yaitu: - Cutis, terdiri dari epidermis dan corium. - Subcutis, mengandung banyak lemak terdiri dari stratum corneum dan stratum gemanaticum. Kemampuan sensori taktil dikategorikan dalam dua hal yaitu diskriminasi intensitas dan diskriminasi spasial. Diskriminasi intensitas (misal sensitivitas) merujuk kepada kemampuan menilai kekuatan simulus; diskriminasi spasial merupakan kemampuan membedakan lokasi atau titik asal rangsang. Basis saraf dari sensitivitas membedakan taktil terletak pada jumlah cabang sensori dan unit sensori pada setiap area di kulit. Korpuskulus peraba (Meissner) terletak pada papila dermis, khususnya pada ujung jari, bibir, puting dan genetalia. Bentuknya silindris, sumbu panjangnya tagak lurus permukaan kulit dan berukuran sekitar 80 mikron dan lebarnya sekitar 40 mikron. Sebuah kapsul jaringan ikat tipis menyatu dengan perinerium saraf yang menyuplai setiap korpuskel. Pada bagian tengah korpuskel terdapat setumpuk sel gepeng yang tersusun transversal. Beberapa sel saraf menyuplai setiap korpuskel dan serat saraf ini mempunyai banyak cabang mulai dari yang mengandung mielin maupun yang tak mangandung mielin. Korpuskulus ini peka terhadap sentuhan dan memungkinkan diskriminasi/ pembedaan dua titik (mampu membedakan rangsang dua titik yang letaknya berdekatan). berdasarkan cepat-lambatnya adaptasi, reseptor dibaginya menjadi - reseptor phasik : cepat beradaptasi (misalnya sentuhan) - reseptor tonik : lambat beradaptasi (misalnya spidel otot serta organ untuk dingin dan nyeria). Reseptor kulit dan hantaran impuls di saraf perifer. Kulit berfungsi sebagai: - Mekanoreseptor, berkaitan dengan indera raba, tekanan, getaran, dan kinestesi. - Thermoresptor, berkaitan dengan penginderaan yang mendeteksi panas dan dingin. - Reseptor nyeri, berkaitan dengan mekanisme protektif bagi tubuh. Modalitet peraba bagi tubuh adalah takil, sakit atau nyeri, panas, dingin dan tekanan. Reseptor taktil dan sakit adalah corpuscullus tactus dan meissner. Reseptor panas adalah corpuscullus ruffini (didekat subcitus dan corium), reseptor dingin adalah corpullus bulbo ideakrauso ( didekat subcutis dan corium). Reseptor tekanan adalah corpuscullus lamellosum paccini yang terletak di subcutis. Impuls panas dan dingin dihantarkan melalui tractus spino thalamicus lateralis, berhubungan dengan asalnya, rangsang-rangsang taktus dibedakan atas : - Rangsang eksteroseptif, yaitu rangsang yang diterima dari luar, misalnya rangsang dari kulit. - Rangsang proprioseptif, yaitu rangsang yang ditimbulkan oleh suatu alat dan diterima oleh otot sendiri, bagian visceral. - Rangsang introseptif, yaitu rangsang yang datang dari dalam tubuh, misalnya rangsang yang diterima oleh usus. - Rangsang kinestesi, yaitu gerakan-gerakan dan ketegangan-ketegangan dari berbagai bagian tubuh dan otot. Rangsang ini terdapat pada persedian dan otot. 1.PERASAAN PADA KULIT Alat yang digunakan: 1.1 Percobaan 3 baskom plastik - 2 baskom berwarna biru - 1 baskom berwarna merah - Air hangat - Air dingin - Air netral -Tissu 1.2 Perbandingan dingin - Gelas plastik - Air - Sendok - Aseton - Tissu Jalannya Percobaan: 1.1 Percobaan 3 baskom plastik - Siapkan 3 baskom berisikan air hangat, air dingin dan air netral. - Masukan kedua tangan kedalam baskom A yang berisikan air hangat dan baskom B yang berisikan air dingin secara bersamaan. Lalu diamkan selama 15 detik. - Setelah itu, masukan tangan yang sudah direndam air hangat dan air dingin tadi ke dalam baskom C yang berisikan air netral. - Kemudian rasakan perbedaan/ perubahan yang terjadi dari kedua tangan. 1.2 Perbandingan dingin - Tiup bagian punggung tangan, rasakan perubahan pertama yang terjadi. - Tuangkan 1 tetes air dibagian punggung tangan lalu ditiup dan rasakan perubahan kedua yang terjadi. - Tuangkan 1 tetes aseton dibagian punggung tangan lalu ditiup dan rasakan perubahan ketiga yang terjadi. Hasil Percobaan 1.1 Percobaan 3 baskom plastik Tangan kanan (air hangat) Tangan terasa seperti adan partikel-partikel dalam air hangat yang naik punggung tangan, sehingga bulu halus yang terdapat di punggung tangan seperti terangkat saat keadaan posisi tangan didalam baskom yang berisi air hangat. Namun saat keadaan tangan kembali ke kondisi semula (sesudah merendam tangan), tangan menjadi terasa dingin dan memerah. Tangan kiri (air dingin) Tangan seperti adanya partikel-partikel dingin yang naik ke punggung tangan. Sehingga tangan seperti membeku saat tangan direndam didalam baskom berisi air dingin. Namun saat keadaan tangan kembali ke kondisi semula, tangan menjadi berkeringat dan mengeluarkan air. 1.2 Perbandingan dingin - Proses pertama pada bagian punggung tangan timbul perasaan merinding karena dingin setelah habis ditiup. - Proses kedua (menggunakan 1 tetes air) pada bagian punggung tangan menjadi dingin karena udara yang ditiupkan. - Proses ketiga (menggunakan 1 tetes aseton) pada bagian punggung tangan menjadi lebih dingin seperti diletakannya es batu di atas punggung tangan. Hasil Sebernarnya: 1.1 Percobaan 3 baskom plastik - Biasanya setelah dimasukan ke dalam baskom C tangan kanan terasa dingin, tangan kiri menjadi terasa hangat. - Kulit sebagai thermoreseptor-mendeteksi panas dan dingin. - Tangan kanan terasa dingin karena adanya pengurangan kalor-panas ke hangat. - Tangan kiri terasa hangat karena adanya penambahan kalor-dingin ke hangat. 1.2 Perbandingan dingin - Air lebih dingin dari pada ditiup. - Aseton lebih dingin daripada air. - Ada reseptor dingin pada kulit-reseptor and krause. - Aseton memiliki titik didih yang rendah sehingga mengenai kulit aseton akan langsung menguap. Notes : sehabis meneteskan aseton ke punggung tangan, botol aseton harus segera ditutup. Karena akan terjadi pengupan (cair-gas). Kesimpulan: Dari hasil percobaan yang saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa kulit manusia memiliki kepekaan yang tinggi. Dapat dilihat dari percobaan diatas bahwa kulit memiliki thermoreseptor untuk mendeteksi suhu (panas dan dingin). Selain itu, kulit juga berfungsi untuk memberikan informasi umum tentang kondisi-kondisi dalam tubuh (misalnya, temperatur dan tekanan darah). 2.LOKALISASI TAKTIL Alat yang digunakan: - Spidol/ pulpen - Penggaris Jalannya Percobaan: - Subyek percobaan menutup mata, sambil memegang spidol/pulpen. - Subyek percobaan mengikuti rangsangan yang dibuat oleh penguji. (misalnya memberi titik pada punggung dengan menggunakan spidol/pulpen). - Terus dilakukan sebanyak 3x dan mengukur jarak yang dihasilkan. Hasil Percobaan: - Pada proses pertama menghasilkan jarak 0,9 cm - Pada proses kedua menghasilkan jarak 0,3 cm - Pada proses ketiga menghasilkan jarak 0,8 cm Hasil Sebenarnya: - Bila jarak kurang dari 5 cm, saraf peraba berarti dalam kondisi baik. - Bila jarak lebih dari 5 cm, saraf peraba berarti dalam kondisi kurang baik. - TPL (two point localization) lebih peka pada bagian yang menonjol seperti hidung, mata, bibir, ujung jari, telinga dll. Kesimpulan: Dari hasil percobaan yang saya lakukan, dapat saya simpulkan disini bahwa pada percobaan ini rangsangan sangat mempengaruhi dalam gerak refleks pada manusia. Jika seseorang menerima rangsangan, maka dengan sigap orang tersebut akan memberi gerak refleks dengan cepat. Contohnya saja, saat seseorang dikejutkan, gerak refleks yang ditimbulkan bisa bermacam-macam, contoh memukul balik, melompat dll. 3.DAYA MEMBEDAKAN SIFAT BENDA Alat yang digunakan: 3.1 Kekasaran permukaan - Menggunakan lima macam kain. 3.2 Berbagai bentuk benda - Benda berbentuk huruf - Benda berbentuk angka - Benda berbentuk balok - Benda berbentuk hewan Jalannya Percobaan: 3.1 Kekasaran permukaan - Subyek percobaan menutup mata - Subyek percobaan diberikan 5 macam kain - Subyek percobaan meraba dengan ujung jari - Subyek percobaan diminta mengurutkan kain yang halus sampai kain yang kasar. 3.2 Berbagai bentuk benda - Subyek percobaan menutup mata - Subyek percobaan diberikan 1 benda untuk ditebak bentuknya. - Penguji menayakan jawaban benda yang ditebak kepada subyek percobaan. - Lakukan hal yang sama sebanyak 5x. Hasil Percobaan: 3.1 kekerasan permukaan • Urutan kain dari yang paling halus – kasar. (hasil yang benar) - Kain berwarna putih - Kain berwarna pink - Kain berwarna biru tua - Kain berwarna peach - Kain berwarna hijau • Urutan kain dari yang paling halus – kasar (subyek percobaan) - Kain berwarna pink - Kain berwarna putih - Kain berwarna biru tua - Kain berwarna hijau - Kain berwarna peach 3.2 Berbagai bentuk benda Subyek percobaan berhasil menjawab semua bentuk huruf S, Q, G. Bentuk hewan jerapah dan bentuk bulat yang diberikan penguji dengan mata tertutup. Hasil sebenarnya: 3.1 Kekasaran permukaan - Tidak memiliki hasil yang sebenarnya - Hasil sebenarnya dapat dilihat dari kemampuan subyek percobaan dalam membedakan mana kain yang paling halus dan mana kain yang paling kasar. Notes : ada beberapa faktor yang mempengaruhi indera peraba dalam percobaan ini yaitu, ketersediaan waktu, dan alat peraba (ujung jari) mengalami masalah. 3.2 Berbagai bentuk benda - Tidak memiliki hasil yang sebenarnya. - Hasil sebenarnya dapat dilihat dari kemampuan peserta dalam keadaan mata tertutup. Notes : ada beberapa faktor yang mempengaruhi indera peraba dalam percobaan ini yaitu, kurangnya konsentrasi dan keadaan sekitar yang kurang kondusif. Kesimpulan: Dari hasil percobaan yang saya lakukan, dapat saya simpulkan bahwa proses perabaan yang dilakukan dalam percobaan ini memiliki fungsi yang dapat memberitahukan seseorang untuk mengetahui berbagai bentuk benda. Walaupun dengan mata tertutup, namun seseorang dapat merasakan dan mengetahui bentuk benda yang mereka raba. 4.GERAK REFLEKS Alat yang digunakan: - Martil refleks dengan bagian depan terbuat dari karet. - Kursi/ Meja Jalannya Percobaan: - Subyek percobaan duduk diatas meja secara rileks - Kaki dilemaskan - Penguji meraba tulang yang menojol (bagian lutut dan siku) - Penguji memukul bagian tulang yang menonjol dengan martil refleks. - Lihat hasil yang ditunjukan. Bergerak atau tidak? Hasil Percobaan: Subyek percobaan awalnya tidak mendapatkan titik refleks, dan tidak terasa tersetrum. karena sebelum melakukan tes, subyek percobaan pernah mengalami kecelakan pada bagian kaki kiri (retak) akibat terjatuh. Tapi setelah dicoba beberapa kali, gerak refleks yang dihasilkan sedikit (bergerak). Hasil Sebenarnya: - Lutut yang dipukul dengan martil refleks secara spontan akan bergerak sendiri adanya gerak refleks. - Namun tidak harus bergerak bisa juga terasa seperti terasa tersetrum. Kesimpulan: Dari hasil percobaan yang saya lakukan, dapat disimpulkan bahwa gerak refleks ditentukan dari seberapa seseorang dapat peka akan berbagai yang ada disekitanya. Kulit disini berperan sebagai monitor informasi tentang tubuh yang datang dari reseptor-reseptor diotot, sendi, dan organ-organ keseimbangan. Misalnya saja, seseorang yang terjatuh dan fungsi gerak refleksnya berkurang karena salah satu ototnya mengalami perubahan paska kecelakaan. Daftar Pustaka: P.J Pinel, John. 2009. BIOPSIKOLOGI. Edisi ketujuh. Yogyakarta. Pustaka Pelajar Dwi Riyati B.P dkk. 1996. Psikologi Umum I. Jakarta. Gunadarma. Puspitawati Ira. 1998. Psikologi Faal. Jakarta. Gunadarma. http://ibadurahman-robbani.blogspot.com/2010/11/indera-peraba.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar